Rabu, 31 Agustus 2016

CERITA LUCU MUKIDI YANG MEMBUAT SAYA TERTAWA TERBAHAK - BAHAK

CERITA LUCU MUKIDI YANG MEMBUAT SAYA TERTAWA  TERBAHAK - BAHAK

Gara – gara cerita lucu pak Mukidi saya jadi rajin mengunjungi blog Pak Soetantyo Moechlas untuk membaca cerita lucunya.Benar kata orang – orang cerita mukidi memang membuat kita jadi tertawa terbahak – bahak.

Coba dech baca cerita Mukidi dibawah ini saya rasa, teman – teman juga akan tertawa minimal tersenyum, tersenyum simpul…hehe.
Cerita Mukidi dibawah ini saya kutip dari blog ceritamukidi.wordpress.com, agar teman –teman juga bisa menikmati.

Cerita Mukidi 1.


Menjelang Idul Fitri Markonah tertarik membeli kosmetik mahal asli Paris bukan beli dari MLM seperti  teman-temannya. Kosmetik ajaib yang lebih mahal dari  Bobbi Brown, Stila, dan Mac menurut salesgirlnya memberi garansi,  pemakainya akan tampil jauh lebih muda dari usianya.


Setelah berjam-jam duduk di depan meja rias, mengoleskan kosmetik ‘ajaib’ nya, dia bertanya kepada Mukidi, sang suami:


“Mas, sejujurnya berapa tahun kira-kira usiaku sekarang?”


Mukidi memandang lekat-lekat istrinya tercinta.


“Kalau dilihat dari kulitmu, usiamu 20 tahun; rambutmu, hm…18 tahun….penampilanmu; 25 tahun…”


“Ah mas Mukidi pasti cuman menggoda,” Markonah tersipu manja.


“Tunggu dulu sayang, saya ambil kalkulator….. saya jumlahkan dulu ya…..”





Cerita Mukidi 2.


“Mas tadi waktu bukber pada cekikikan ngomongin kodok apaan sih?” tanya Markonah.


“Dulu sekali, aku, Wakijan, Samingan sowan ke mbah Joyongablak nanyain masalah jodoh,” jawab Mukidi:


 “Waktu kami pulang, mbah Joyo berpesan: ‘Ati-ati jangan sampai nginjek kodok.’ 

Celakanya walaupun sudah berhati-hati, Wakijan nginjek kodok.

 Gak lama, Samingan juga nginjek kodok. Cuman aku yang selamat sampai rumah tanpa nginjek kodok.”

“Memang kalau nginjek kodok kenapa?” 


“Yah tadinya mereka berdua cemas, tapi lama-lama kata-kata mbah Joyo dianggap cuma takhayul.


 Eh 5 tahun kemudian setelah mereka kawin bininya jelek-jelek, bawel. Rupanya gara-gara nginjek kodok, kata-kata simbah terbukti. Kamu percaya gak Nah?”

“Percaya sih mas, aku dulu juga nginjek kodok….”




Cerita Mukidi 3.


Mukidi melihat mbah Kartinem sedang kebingungan di kantor pos.


 “Bisa saya bantu nek?” 

“Tolong pasangin perangko sama tulis alamatnya nak.” 

“Ada lagi nek?” 

“Bisa bantuin tulis isi suratnya sekalian?” Mukidi mengangguk. 

Si mbah lalu mendiktekan surat sampai selesai.

 “Cukup nek?”. 

“Satu lagi nak. Tolong di bawah ditulis: maaf tulisan nenek jelek.”


 Cerita Mukidi 4.




Malam ini Mukidi tidak mengikuti shalat taraweh. Kawan anda mengunjungi dokter gigi.


“Wah pak Mukidi, kenapa gigi bapak sampai rompal, rahang bapak  bengkak pula?”


 “Begini dok, Markonah istri saya membuat pizza untuk berbuka puasa.”


“Lalu?”


“Pizzanya keras banget seperti balok kayu.”


“Pak Mukidi kan nggak perlu memakannya?”


“Itu yang saya lakukan dok, makaya gigi saya copot,


 gara-gara digampar pakai pizza tadi.”



Cerita Mukidi 5.


Mukidi dan Wakijan yang sedang berburu, belum mendapat hasil seekorpun, ketika seekor beruang yang sangat besar tiba-tiba keluar dari semak-semak di dekat mereka. 

Celaka! Mukidi tidak bisa menyelamatkan dirinya.

Ketika hendak lari kakinya tersandung akar pohon, senapannya terlepas, dia jatuh tertelungkup, 

sementara Wakijan berhasil menyelamatkan diri memanjat pohon besar. Dari atas pohon Wakijan memperhatikan beruang itu mengendus-endus tubuh sahabatnya yang sudah tidak berdaya. 

Meskipun senjata ada ditangannya, Wakijan tidak berani berbuat apapun untuk menolong Mukidi.

Beberapa menit mengendus calon mangsanya, beruang itu akhirnya meninggalkan Mukidi yang dikira sudah mati. Dagingnya mungkin sudah pahit. 


Setelah beruang itu menjauh, Wakijan perlahan-lahan turun dari pohon tempatnya bersembunyi.

 Mukidi duduk dan mengambil napas panjang. Lega, setelah lolos dari maut tadi.

 “Di,” Wakijan membuka percakapan, “kulihat tadi beruang sangar itu membisikkan sesuatu ke telingamu?”

“Betul,” jawab Mukidi kalem, “dia bilang; tidak bijaksana berjalan bersama-sama dan berteman dengan seseorang yang membiarkan dan tidak menghiraukan temannya yang berada dalam bahaya.”



 Cerita  Mukidi 6.



Pulang Jum’atan, Mukidi diajak ustad yang mengisi khutbah siang ini makan siang di Sederhana. 


Maklum amplop pak ustad siang ini cukup tebal.

 “Ayo mas, sikat saja…” kata ustad,


 begitu makanan selesai dihidangkan. Bagaikan musafir yang menemukan air di padang pasir, Mukidi mengawali makan siangnya dengan ayam pop lengkap, lalu gulai kepala ikan, giliran berikutnya udang goreng yang menggoda. Pak ustad juga tak kalah gesit. Yang penting halal, lagipula mentraktir orang, besar pahalanya.

Mukidi melengkapi makan siang yang mengesankan itu dengan jus durian. Pak ustad memanggil pelayan untuk menghitung jumlah makanan yang mereka embat. Seperti biasa, si pelayan cekatan sekali menghitung tanpa kalkulator.

“Ustad, apa doanya sesudah makan?” tanya Mukidi sambil mencuci tangan  

“Astaghfirullah!” ustad berseru.
“Loh doanya sudah ganti ya? koq astaghfirullah?”
“Bukan! itu doa kalau melihat bon makan siang….”


Bagaimana Teman – teman sekalian apakah anda tertawa, jika belum ketawa coba anda ulangi lagi dalam membacanya…sampai ketawa.:)
Demikianlah Tulisan ini dibuat jika ada kesalahan dalam Ide Dan Penulisan saya mohon maaf.

0 komentar

Posting Komentar